comment 0

Mengulas ulasan musik

Jangan sampai ulasan musik di Indonesia hanya jadi alat pemuas ego yang buas, tapi juga jadi kuas analisa yang lugas dan bernas.

Screen Shot 2017-06-23 at 1.40.29 PMScreen Shot 2017-06-23 at 1.35.16 PM

Terlepas dari dampak yang dihasilkannya kepada industri musik, belum ada satu orang pun yang bisa (atau berani) merumuskan bagaimana cara menulis ulasan musik yang baik. Lalu ada komentar lain: Mungkin ada baiknya hal ini justru tidak dilekatkan kepada sebuah tata cara atau definisi tertentu karena sejatinya ulasan musik haruslah mengalir dan lentur. Sepakat?

Pernyataan itu ada benarnya, banyak salahnya. Bagi saya tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ulasan musik yang dijadikan alat masturbasi ego dan intelektual oleh penulisnya. Atau yang lebih tragis lagi, ulasan musik yang wangi semerbak dihiasi kata-kata indah namun miskin makna.

Dalam kacamata publikasi musik, segmen ulasan sering dijadikan mistar untuk mengukur gengsi dan pamor. Di awal 2000-an saat media Online berskala kecil sudah mulai bermekaran, ulasan dan analisis musik seringkali dijadikan “taman bermain” oleh para penulis musik untuk membangun karakter media mereka, juga membangun fondasi pembaca dengan karakter yang serupa.

Di saat yang sama, ulasan juga punya fungsi kurasi, pembaca media musik dimudahkan hidupnya oleh ulasan untuk memangkas daftar belanja album dari rekomendasi halaman ulasan musik dari media yang dikonsumsinya. Ulasan musik menyederhanakan proses kurasi musik pembacanya.

Tentunya saya tidak mau gegabah untuk mengajarkan bagaimana cara menulis ulasan musik yang baik (saya juga tidak tahu caranya), tapi berikut adalah beberapa hal yang menurut saya krusial untuk dipertimbangkan, saat menulis (dan membaca) ulasan musik.

Konteks

“Loh, gapapa dong kalau ulasannya subjektif, justru itu intinya ulasan musik.”

Subjektivitas memang menggiurkan, Anda diperbolehkan menuangkan isi kepala tanpa ada koridor dan kontrol. Lalu diapresiasi orang banyak dan dijadikan bahan referensi. Bagi saya, subjektivitas haruslah berkelindan dengan konteks dan sense of purpose.

Dua hal di atas sangat berkaitan dengan elemen jurnalisme dasar nomor dua; jurnalis (di dalam situasi ini, penulis) haruslah bertanggung jawab kepada masyarakat (baca: pembaca ulasan musik). Ada perbedaan jelas ketika Anda membaca ulasan musik yang tujuan utamanya menginformasikan masyarakat dan yang tujuannya hanya untuk pamer diksi dan referensi.

Semua orang punya selera dan berhak untuk mengekspresikannya, namun tanggung jawab penulis tetap untuk mengelaborasikan pendapatnya dengan cara yang paling mudah dicerna oleh pembacanya.

Penulisan

Berapa panjang ulasan yang ideal? Bagaimana tata bahasa yang sebaiknya digunakan? Tidak ada aturan yang jelas, dan sebaiknya tetap tidak.

Saya banyak menemukan penulis ulasan musik pendek yang malas: isi tulisannya hanya kumpulan kata-kata kiasan dan komparasi setengah jadi yang tidak bertanggung jawab. Hal ini beracun, karena penulis yang baik harusnya tidak malas: bisa memberikan pertanggung jawaban (baca: elaborasi) yang baik tentang kiasan, tata bahasa atau perbandingan yang konstruktif. Di sini konteks bermain.

Misal, Anda menggambarkan pengalaman mendengarkan album grup A seperti memakan bangkai mayat. Kalimat selanjutnya seharusnya menjelaskan alasan kenapa Anda bisa mencetuskan pernyataan tersebut. Menguraikan frasa “memakan bangkai mayat” menjadi sesuatu yang familiar di mata pembaca dalam konteks musik adalah kewajiban dari penulis ulasan musik. Tanpa argumentasi yang legit, kalimat-kalimat itu tak ubahnya kegiatan “lempar batu sembunyi tangan”.

Di sisi lain, saya juga banyak menemukan ulasan musik panjang dari penulis rajin yang membuat mual: isinya hanya kumpulan kata-kata keren yang tidak ada tujuannya. Simpan euforia thesaurus Anda di dalam kepala, tuturkan pendapat Anda dengan elegan dan tepat guna. Jangan terlena selagi merangkai kata-kata, karena tanggung jawab utama Anda, adalah kepada pembaca.

Ini juga penting: hanya ada satu peran untuk istilah asing, referensi literasi, informasi unik, atau latar belakang sejarah di dalam ulasan musik: sebagai pendukung dari pisau analisis Anda. Banyak penulis yang terjebak nikmatnya menggurui pembaca dan pamer referensi, hingga lupa akan tugasnya menganalisa musik yang sedang dibahas. Di zaman di mana semua informasi tersedia di depan mata, hal-hal ini hanya jadi ampas dari esensi yang sebenarnya.

Kesamaan nilai makna lebih mudah dicapai dengan proses delivery yang sederhana. Kembali ke poin pertama tentang konteks, apabila sense of purpose-nya menginformasikan masyarakat, ulasan musik seharusnya dibuat semudah mungkin dicerna, bukan jadi alat masturbasi diksi penulisnya.

Kredibilitas

Ada alasan kenapa di media konvensional seperti koran dan majalah, penulis kolom opini kebanyakan adalah wartawan senior. Dalam pengertian yang sama, kolom opini juga sering dijadikan ukuran harga diri sebuah perusahaan.

Bagi para kuli tinta, ini jadi kemewahan tersendiri: Jurnalis yang biasanya berlapis jubah objektivisme dan kode etik, kini diperbolehkan telanjang mengemukakan keberpihakan, membahas dari mulai album musik, pertunjukkan seni hingga pentas politik. Ini juga masih ada kaitannya dengan pisau analisis. Jarang ada media konvensional yang memperbolehkan kolom opini diisi oleh para junior, dan hanya ada satu alasan kenapa: kredibilitas.

Di zaman di mana semua informasi tersedia, alat tukar kualitas individual yang masih berlaku adalah portfolio dan sepak terjang. Bagi saya, subjektivitas penuls menjadi valid ketika orang tersebut sudah memiliki kredibilitas yang tinggi. Masalahnya bahkan di zaman digital seperti ini, kredibilitas tidak bisa Anda beli dengan instan, apalagi dipalsukan.

Contoh kasus: Jurnalis A dari media publik dengan sirkulasi nasional dan blogger B yang membuka blognya dua tahun lalu , dan dua-duanya mengatakan mendengarkan album band C rasanya seperti memakan bangkai mayat. Siapa yang lebih kredibel, jurnalis A atau blogger B? Silakan Anda renungkan, tapi satu hal yang pasti: album band C memang terbukti busuk.

Kredibilitas juga mengacu kepada cetak biru atap tempat Anda bernaung (baca: media di tempat Anda bekerja). Walaupun diperbolehkan menonjolkan karakter individual, penulis ulasan musik juga tetap menjaga kode etik dan karakter dan media publikasinya. Tentunya setiap media punya cara dan jurus sendiri untuk mengemukakan pendapat, dan jurnalis tidak boleh durhaka: tetap mengamini dan mengikuti tata cara yang sudah disepakat bersama.

Review album dengan nilai buruk oleh jurnalis musik ternama dari media musik yang kredibel, punya bobot lebih ketimbang review album sempurna oleh jurnalis musik dari media musik kacangan. Di sinilah subjektivitas dan konteks juga berlaku, karena berbanding lurus dengan kredibilitas. Di Indonesia, banyak media Online dan komunitas yang hidup di gelembung sosialnya sendiri: realitas yang mereka bahas melayani dan mewadahi lingkaran pertemanan mereka sendiri.

Mereka menulis tentang gig teman, acara kawan, pameran pacar sendiri dan seterusnya. Lantas jadi keki dan “sensi” kepada band-band yang mampu loncat keluar zona kenyamanan dan mendapatkan atensi dari dunia luar. Sah-sah saja sebenarnya, tapi sayang talenta tingginya hanya dipakai untuk coli – memuaskan diri sendiri (dan teman-temannya).

comment 0

The Lows are Equally Worth It

Di sepanjang hidup, menulis pernah jadi tulang punggung edukasi, cara mencari nafkah dan cermin untuk berkaca. Setelah melaju terlalu cepat tanpa sempat melihat ke belakang, kini Ia saya jadikan sarana berbenah diri.

IMG_1575

During my college days, I was so used to be vulnerable in my writings. They were mainly blogposts about relationships, music and life but ultimately it was just me trying to understand myself. During that period, I think I was also emotionally constipated in real life while handling issues, so I kinda needed to hose my feelings somewhere else. So people who knew in day-to-day life were usually surprised when they read my unexpectedly intimate and emotional writings. My stuff was romantic and eloquent, but my personality was straight-up asshole. You can fact-check that, haha.

Also during that period, I think I didn’t have a choice except being emotionally numb, so I allocated my sadness, frustration and anger in my writings. The result was quite impressive: I discovered myself. At that time the blogposts felt just like grumbles around journalism, college, drugs but I didn’t realize until today, those things unfolded my own maze. I struggled to accept certain things and fought the world in my own head. Reading my old writings feels like going on an emotional time-machine.

The next thing I realized is I (actually) learn. At the core, the problems I have today are not really different with the ones I had in the past, but with different magnitude, more participant and bigger risk. My encounter with similar problems made me realized that this is a cycle of issues revolving around my personality, my past and my future. Today, as you read this post, you can easily notice that my writings are not that romantic anymore. It’s more direct and elaborative.

There’s a side of me that is afraid of losing the old intimacy of solving my own maze through writings, but I think I am now more aware of my emotional condition therefore more expressive and honest towards myself. Sometimes I wished I can manage my anxiety and frustration so I can write like the old days but deep down I understand that I passed that phase and as an adult.

This journey also helps me to understand emotional constipation among Indonesian people: many of us auto-corrected our emotional wounds with being numb, blocking vulnerability and simply being zombies. While it is easy and simple because it’s practical to do that, accumulation of that could bury your whole consciousness. I have many friends who survived life being that person, but I guess the simple way to put it is this: Life is better when you are emotionally present. It is not always good, sometimes it is terrible, but I guess when you reach the highs, the lows are equally worth it. Be that person. And, if you write, please don’t stop. It gets harder when you’re older and busier, but your writings will pay you back sometimes in the future with things with no currency.

comment 0

Satu Nyawa Dengan Senyawa

img_1706

“Katakan padaku, hai tukang kayu. Bagaimana caramu menebang kayu.”

Bersama beberapa nomor lagu anak lainnya, “Hai Tukang Kayu” berkumandang, menyambut dan mengiringi penonton mencari kursi – beberapa saat sehabis gong tanda pertunjukkan dimulai menggelegar di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis 22 Desember 2016. Pada awalnya saya bergidik, merasa kikuk dikawal nada-nada ceria ini namun setelah sesaat tampaknya lagu-lagu ini sengaja dimainkan sebagai latar musik yang menetralkan indra-indra yang terkikis habis, digempur sajian utama.

Walaupun beraksi sejak enam tahun lalu, banyak bola mata terarah ke arah Senyawa dua tahun terakhir, kombinasi yang sempurna: rantaian proyek residensi luar Nusantara, panggung-panggung bergengsi skala global dan sorotan media pelosok dunia. Dunia kreatif Indonesia nampaknya punya tabiat tidak sehat yang kita semua benci untuk mengakui: keberhasilan di panggung global seringkali mendulang puji puja di level lokal, tapi tidak pernah sebaliknya. Musik, film, seni kontemporer dan gaya busana jadi sektor-sektor yang “jadi korban” tabiat ini. Mungkin ini rona khas dunia ketiga, saya tidak tahu.

Yang pasti saya tahu, penonton diam seketika ketika Patrick Hartono menempati bangku di atas panggung, resmi seperti ingin memimpin rapat RT. Seniman multi-disiplin asal Makassar yang tinggal di Den Haag melakukan tugasnya dengan baik: memberikan konteks, membentuk ekspektasi dan menghantarkan penonton untuk ada di frekuensi yang sama untuk bisa mencerna Senyawa.

Narasi yang Hartono bangun terdiri lapis bebunyian liar yang terukur, ditimpali visual yang intens. Saya teringat Daniel Lopatin (Oneohtrix Point Never) atau Keith Whitman, dalam format yang lebih santun. Hartono menjembatani musik dan aritmatika melalui geometri: “Kedua hal ini punya keterkaitan yang menarik untuk disimak,” ujarnya sebelum menghajar telinga dan mata semua orang dengan karya penutupnya.

Lagu anak-anak kembali menyeruak untuk menjembatani sesi, sebelum akhirnya dua bayangan perlahan muncul disiram oleh sinar kuning di balik kain putih. Penonton kelewat khidmat, riuh tepuk tangan penyambut terlewat namun nampaknya tidak jadi masalah.

Sejak Vincent Moon mengabadikan “Calling new Gods” di Yogyakarta hingga Senyawa sepanggung dengan Justin Vernon, Rully dan Wukir konsisten membuat porak poranda definisi musik kontemporer. Leburan musik Senyawa membuat duo ini diakui di banyak medan: arena world music, festival musik Independen, ranah noise, tradisional, seni kontemporer hingga bisa membuka Death Grips di Polandia

img_1727

Saat banyak musisi cutting edge  Indonesia berusaha terlalu keras terdengar seperti idola mereka di “dunia Barat”, Senyawa mencuri perhatian dunia dengan kemasan orisinil yang melampaui batas interpretasi musik populer. Teori usang, yang bagi saya akan selalu lestari.

Rully Shabara medefinisikan ulang elemen vokal, yang secara tradisional biasa ditempatkan sebagai bambu runcing, jadi punya daya ledak sama dengan instrumen musikal. Eksplorasi napas, desis dan olah diafragma Rully menghasilkan variasi vokal impresif berstamina tinggi. Di sisi lain, Wukir Suryadi menciptakan instrumen yang bisa memproduksi bebunyian ritmik dan melodik di saat yang sama. Ditambahkan dengan hempasan vokal, keleluasaan dari instrumen ini memberikan Senyawa ruang untuk mengobrak-abrik emosi pendengarnya. Musik yang tercipta sensitif, rapuh, marah, perkasa, indah, modern dan primitif di saat yang sama.

Di salah satu wawancara yang Rully Shabara lakukan di 2015 dengan sebuah kolektif seni di Jepang, dia mengaku Senyawa tidak memainkan musik avant garde, eksperimental atau tradisional, namun merupakan interpretasi musik Metal versinya. Sudut pandang ini menarik untuk ditinjau, karena pendekatan ritmik yang diciptakan oleh Wukir memang terkadang mengadopsi cetak biru musik Metal. Berbalut distorsi dan penjiwaan, kombinasi semua hal tersebut jadi senjata mematikan yang membuat semua orang jatuh hati. Muatan lirik juga dieksekusi dengan pendekatan eksperimental yang sama, membuat Senyawa tak hanya berbahaya dari segi musikal, namun juga menyerukan pesan tematik konkret yang relatif mudah dicerna.

Set pertama banyak dipersenjatai instrumen “Bambu Wukir”, menghantarkan beberapa lagu favorit saya. “Kereta tak berhenti lama” dan “Jaranan” dari album Acaraki (2014), jadi salah dua yang menyangkut di kepala hingga sekarang. Instrumen baru mereka “Garu” dipamerkan di set kedua, juga spatula bersenar yang diberi nama “Suthil”. Garu – Alat musik serupa bajak kayu ini menghasilkan suara yang lebih grande, namun berkonsep sama: dimainkan multi teknik (petik, gesek, tabuh) dan menghasilkan banyak bunyi. Pendekatan Wukir dalam menciptakan instrumen musik membuat Senyawa menjadi band yang aseksual: susah dikategorisasi, namun mudah menjangkau hati.

Konser Tanah Air jadi penutup 2016 yang sangat berkesan. Angkat topi juga untuk tim G-Production yang berhasil menyuguhkan kualitas penampilan dan servis yang ciamik. Musik Rully dan Wukir merupakan contoh kasus langka di Indonesia: Tidak sulit untuk menikmati keindahannya, namun sulit untuk menjelaskan apa musiknya. Bebunyian yang sederhana namun kaya, membuat satunya-satunya pilihan yang tersisa hanya pasrah dan bahagia jadi satu nyawa dengan Senyawa.